blogué :: blog-é wông gragé

23 March 2006

Petisi Mendukung RUU APP

Oleh wông gragé, terarsip di Politik, Islam kita, Indonesiana, pukul 09:58

Suara Anda dibutuhkan. Silahkan bubuhkan dukungan anda di:

http://www.petitiononline.com/mod_perl/signed.cgi?ruuappri&1

Bagi yang belum membaca RUU APP, sila lihat di:

http://www.lbh-apik.or.id/ruu-pornografi.htm

penjelasannya di sini:

http://www.lbh-apik.or.id/ruu-porno-penjelasan.htm

atau bisa juga ke sini:
http://www.dpr.go.id/download/Rancangan%20UU/ruu_ttg_anti_pornografi_dan_pornoaksi.pdf

3 January 2006

Syaamil Al-Qurʿan & Pedoman Transliterasi Arab-Latin

Oleh wông gragé, terarsip di Islam kita, pukul 11:24

Saya baru saja menerima Syaamil Al-Qurʿan dari kang Deny. Sebenarnya sudah lama Al-Qurʿan cetakan Penerbit Syaamil (penerbit terbaik tahun 2003) ‘dikirim’ lewat teman oleh beliau, tapi baru bisa saya terima karena saya baru bisa ke Karlsruhe.

Pada Al-Qurʿan cetakan ini, digunakan khat (teks arab) dari madinah, dengan tanda baca yang disesuaikan dengan aturan Departemen Agama, misalnya pada nun mati yang diharuskan menggunakan tanda sukun dan juga pada kata Allah menggunakan tanda baca fathah tegak. Pada kata pengantar juga dijelaskan bahwa telah dilakukan revisi terhadap terjemahan Depag pada surat Al-Baqarah ayat 102 oleh ustadz ʿAbdul ʿAziz ʿAbdul Raʿuf Al-Hafiẓ setelah melalui kajian secara mendalam.

Hal yang menarik lainnya adalah, Syaamil Al-Quran melampirkan 3 hal yang menurut saya sangat berguna bagi kita:

  • Al-Maʾṡurat dan Do’a Rabiṭah
  • Do’a Sujud Tilawah dan Tanda-tanda Waqaf
  • Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Yang terakhir disebut adalah pedoman yang berlandaskan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri P dan K Nomor 158 tahun 1987 - Nomor: 0543 b/u/1987. Berikut saya rangkumkan isi pedoman tersebut.

I. Konsonan

  • ا = tidak dilambangkan
  • ب = b B
  • ت = t T
  • ث = ṡ Ṡ (huruf s dengan titik di atasnya)
  • ج = j J
  • ح = ḥ Ḥ (huruf h dengan titik di bawahnya)
  • خ = kh Kh
  • د = d D
  • ذ = ż Ż (huruf z dengan titik di atasnya)
  • ر = r R
  • ز = z Z
  • س = s S
  • ش = sy Sy
  • ص = ṣ Ṣ (huruf s dengan titik di bawahnya)
  • ض = Ḍ ḍ (huruf d dengan titik di bawahnya)
  • ط = ṭ Ṭ (huruf t dengan titik di bawahnya)
  • ظ = ẓ Ẓ (huruf z dengan titik di bawahnya)
  • ع = ʿ (voiced pharyngeal fricative)
  • غ = g G
  • ف = f F
  • ق = q Q
  • ك = k K
  • ل = l L
  • م = m M
  • ن = n N
  • ھ = h H
  • و = w W
  • ء = ʾ (glottal stop)
  • ى = y Y

II. Vokal pendek
ﻴﺫْﻫب = yażhabu

III. Vokal panjang
ﻴَﻘُﻮْﻝُ = yaqūlu (vokal panjang ditunjukkan oleh garis di atas huruf)

IV. Diftong
اَﻱْ = ai
اَﻭْ = au

Catatan:
Keterangan dalam tanda kurung di atas adalah tambahan dari saya. Penggunaan tanda titik di atas huruf s dan di bawah huruf-huruf h, s, d, t, z - yang menggunakan unicode - tidak bisa ditampilkan dengan benar oleh sebagian besar browser alias posisi titik menjadi disebelah kanan dari huruf.

15 November 2005

2 tahun Farras Saifana Jasmin

Oleh wông gragé, terarsip di Pribadi, Islam kita, pukul 08:21

Milad ke-2 Farras Saifana Jasmin.


رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. 2 : 128)
Baca lanjutannya…

11 November 2005

Muslim Turki Peduli

Oleh wông gragé, terarsip di Islam kita, Indonesiana, pukul 13:15

Bendera TurkiBendera Indonesia

Telah dibuka: Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam Indonesia (ENDONEZYA İSLAM KÜLTÜR MERKEZLERİ BİRLİĞİ), yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan kepunyaan saudara-saudara kita dari Turki. Saya baru mengetahuinya dari pamflet yang terpajang di Masjid tempat saya sholat Jum’at tadi. Baca lanjutannya…

9 November 2005

Nasyid

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Islam kita, pukul 14:04

Kapan Anda mendengar kata “nasyid”?

Pertama kali saya mendengar nasyid dan kata “nasyid” kira-kira dulu sewaktu awal 90-an. Ketika itu, kakak saya yang aktif di Karisma ITB membawakan sebuah kaset nasyid berjudul Panggilan Jihad. Sejak itulah saya mulai akrab dengan nasyid, walaupun tak tahu apakah definisi itu nasyid. Apakah itu aliran atau genre dalam musik, atau apa?

Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang ikut mendengarkan suara Opick menyela: “wah ini sih bukan nasyid!” Ketika saya tanya kenapa, ternyata nasyid yang ia kenal (atau yang ia definisikan?) adalah lagu tanpa (atau lebih tepatnya minim?) alat musik. Sedangkan Ustadz Opick jelas menggunakan alat musik seperti halnya lagu-lagu pop yang ada. Tapi saya yakin, Ustadz Opick adalah seorang munsyid (pelantun nasyid). Baca lanjutannya…

7 November 2005

Puasa Sepanjang Tahun

Oleh wông gragé, terarsip di Islam kita, pukul 09:56

Selepas ibadah Ramadhan dan masuk bulan syawal, kita punya kesempatan untuk mendapatkan amalan seperti kita berpuasa sepanjang tahun. Bayangkan, betapa Allah Swt Maha Pemurah.

Sabda Rasul Saw:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتَبْعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan kemudian disusul dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka puasanya itu bagaikan puasa sepanjang tahun” (HR. Imam Muslim dalam kitab Shahihnya)

Baca lanjutannya…

25 October 2005

Ich bin Muslim

Oleh wông gragé, terarsip di Islam kita, Jermania, pukul 13:51

Siang tadi, seperti biasa saya pergi untuk sholat dzuhur di masjid Turki kurang lebih 10 menit dari perusahaan tempat saya magang. Di pintu masjid saya dihadang oleh tiga anak turki kecil. Mungkin usianya sekitar 5 sampai 6 tahun-an.

“Was moechten Sie?”, tanya salah satu dari mereka (”Anda mau apa?”).
“Ich moechte beten.” (saya mau sholat).
“Turkishe beten?” seorang anak menyahut agak pelan (”sholat turki?”).
Seorang lagi berkata: “Sind sie Turkish?” (”Anda orang turki?” -tapi saya seperti ditanya: “memangnya Anda orang Turki?”)
“Nein, aber ich bin Muslim.” (”bukan, tapi saya seorang muslim.”) Baca lanjutannya…

15 September 2005

Lir Ilir

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Islam kita, pukul 12:58

(bahasa jawa)

Am        Am           C       Am  Dm
Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir
      C           Dm
Tak ijo royo - royo
               F       Am
Tak sengguh temanten anyar
	
Am          Am          C          Am   Dm
Cah angon - cah angon penekno blimbing kuwi
         C       Dm            F         Am
Lunyu - lunyu peneen kanggo mbasuh dododiro, dododiro
	
Am          Am               C     Am     Dm
Dododiro - dododiro kumitir bedah ing pinggir
C        Dm               F       Am
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
	
           G           Am
Mumpung pandang rembulane
G           Am
Mumpung jembar kalangane
C       Dm   F   G Am
Sun surako surak hiyo

Sebuah nasyid jawa zaman Walisongo. Tidak bisa dipastikan, siapa yang menggubah tembang penuh makna ini. Ada yang menyebut Sunan Giri, ada yang bilang Sunan Kalijaga, atau Sunan Ampel. Bisa jadi lembaga Walisongo yang menggubahnya, sebagai strategi dakwah ke masyarakat jawa pada saat itu.

Jika ditanyakan, berapa orang yang tahu lagu ini? Mungkin bukan hanya orang jawa yang kenal. Bahkan para harpis menterjemahkan lir ilir ke dalam musik jazz dalam konser harpa “Harp to Heart” yang menampilkan The World Harp Ensemble (WHE), Selasa (28/5), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Mereka adalah Maya Hassan dari Indonesia, Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kelly Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico)

Tak kurang, Carrol McLaughlin, seorang profesor musik harpa Universitas Arizona yang terkagum-kagum pada Lir ilir, sering memainkan tembang ini. Lalu apakah dia mengerti lagu ini? Maya Hassan, harpanis Indonesia seperti dikutip Kompas mengatakan “Dia berusaha ingin mengerti filosofi lagu.”

Sebuah diskusi di milis Forkom Jerman mengingatkanku, bahwa kita banyak tahu lagu-lagu daerah, tapi sudah miskin makna. Bahkan, kata-kata banyak tahu ini pun masih dipertanyakan. Seiring dengan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah, lagu-lagu daerah pun menjadi sulit dikenal. Jangankan untuk memahami, mengerti kata-per-kata saja sulit. Padahal bahasa adalah kekayaan yang tak ternilai. Bahkan, dibandingkan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah semisal Basa Sunda memiliki kosa kata yang lebih kaya dan lebih mendalam.

Dari diskusi Lir ilir, semakin mengkristalkan keyakinanku akan penghargaan terhadap budaya, dalam hal ini bahasa. Apalagi latar belakang keluargaku dan keluarga istriku yang sunda-jawa-cirebon.

ps. terjemahan Lir ilir, bisa dilihat dalam situs nasyid malaysia di sini