15 April 2008
Ditelepon Batur Lawas
Nembé baé batur lawas kita nelepon sing Batam. Arané Ahmad Jamal. Bari gemuya-gemuyu tak jawab telepon sing déwéké, sabab kita bli nyangka bakalan ditelepon. Awité sih ning milis Smanda Gragé déwéké nakon nomer telepon. Kontan baé tak jawab. Wis suwe pisan kita langka kontak.
“Ente mendi bae?” takon deweke. “Wis pragat tah master-é?”. Jamal wis duwé bocah loro. Wis dadi wong sukses. Terus tak inget-inget, wis suwé pisan. Ana patang taunan langka kabaré. Terakhir déwéké dolan ning Cipto. Kita gé wis suwé bli ngomong cerbonan. Rada kagok, tapi nyenengaken. Wis ah, angel nyritaaken obrolan mau. Ari nulis mengkenenan, jadi inget jogrégan-é Lamsijan ning PR-Edisi Cirebon. Mendi parané sekiyen ya? Wis wassalaam tah? Atanapi masih ana?
Boca-boca Ansadela 1993-1994, pada mendi kabeh?
nb. Foto kita sing buri lagi nerima telepon
16 March 2006
Sintren dan Lais
Sintrén adalah kesenian yang berasal dari daerah sepanjang pesisir pantura, seperti Cirebon, Indramayu dan Pekalongan. Makna Sintrén sendiri tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebut sintren kependekan dari “sinyo” (pemuda) “trennen” (berlatih). Ada juga yang mengatakan Sintrén berasal dari kata Sin (Sindir, artinya pertanyaan melalui syair yang perlu dipikirkan dan dicari jawabannya) dan Tetaren (yang artinya tari-tarian). Selain itu, ada juga yang menuturkan bahwa asal usul Sintrén adalah upacara pemanggilan ruh, karena dilihat dari tembang-tembang yang bernuansa magis (?) ditambah adegan kesurupan yang dialami seorang Sintrén dipimpin oleh seorang dalang (atau pawang) sebagai shaman atau dukun. Sedangkan Lais adalah seni yang serupa dengan Sintrén hanya saja lakonnya adalah seorang laki-laki.
Selebihnya, saya melihat ini hanya sebagai sebuah kesenian dengan trik tertentu. Saya sendiri pernah beberapa kali sewaktu SMA terlibat dalam pementasan Sintrén (baik sebagai dalang ataupun penembang, tapi belum pernah sebagai Sintrén
). Gugusdepan Pramuka di SMA 2 Cirebon (Smanda Gragé) memang secara rutin setiap tahun menampilkan kesenian ini di acara pementasan seni dalam rangka ulang tahun Ambalan Candra Dimuka - Candra Buana. Selain itu juga pernah digelar pertunjukkan Sintren (dan Lais) di RW kami dalam acara 17-agustusan. Baca lanjutannya…
8 December 2005
Sate Pentul
Pernah makan sate pentul? Ini sate khas Cirebon.
Ngomong-ngomong tentang makanan khas Cirebon, jenis makanan apa pun, salah satu bumbu utamanya adalah kunyit, baik daun maupun akarnya. Nah, tidak terkecuali sate pentul ini. Kunyit ini juga merupakan bahan penghasil warna pada batik. Mungkin lain kali akan dibahas soal motif batik khas dari Cirebon.
Sate Pentul
Bahan-bahan yang dibutuhkan:
0,5 kg daging kambing yang dicincang
1,5 butir kelapa
ketumbar
bawang merah
kawang putih
kunyit
daun jeruk nipis
garam
sagu/kanji
sujen (tusuk sate)
Cara membuatnya:
Bumbu-bumbu dihaluskan sampai lembut, campurkan daun jeruk nipis yang sudah diremas-remas ke dalamnya. Kelapa diparut. Bumbu yang sudah dihaluskan kemudian dicampur dengan daging cincang, lalu aduk dengan kelapa parut tadi. Pulunglah (eh, pulung bahasa Indonesia bukan?) bulat-bulat sebesar ibu jari. Supaya tidak hancur ketika digoreng, luluri bulatan tadi dengan air sagu. Lalu tusukkan ke dalam sujen dan goreng dalam minyak yang panas.
Silahkan mencoba. Resep ini didapat dari situs resmi Kotamadya Cirebon dengan sedikit mofifikasi.

