blogué :: blog-é wông gragé

8 March 2008

Perfect Circle

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, pukul 12:12

A song by Katie Melua, which is right now always ringing in my head. If you want to play on guitar, the chords are really easy.

Am                  C
A mask is easily placed,
           G               F
On a betrayed and broken face.
    Am                  F
A disguise to hide the past,
                        G
When you mapped out my skin
                    F
and made the memories last.
Am                     C
Some things are never erased,
            G                     F
And I have run when I've been chased,
            Am             F
By recollections of you and me
                    G
falling off our homemade castle
     C                       G
And even when I'm walking straight
         Am             F
I always end up in a perfect circle.
      C                   G
Oh I try but I just can't wait,
    Am                F
To break out of this perfect circle.
      Dm                    Am
'Cos giving into old temptation,
     F                  G
Is like that common twitch.
       Dm                   Am
Oh the silly stupid realisation,
               F                 C
The more you scratch the more you itch.
	
Why am I fighting, what's it for,
Must let my mask drop to the floor.
My scars I shouldn't hide
from the people who are on my side,
Rolling up my sleeves to fight against,
All the things I locked up
and all the things I fenced.
But it's time to let it out
so we can build a brand new castle.
	
And even when I'm walking straight
I always end up in a perfect circle.
Oh I try but I just can't wait,
To break out of this perfect circle.
'Cos giving into old temptation,
Is like that common twitch.
Oh the silly stupid realisation,
The more you scratch the more you itch.
	
And even when I'm walking straight
I always end up in a perfect circle.
Oh I try but I just can't wait,
To break out of this perfect circle.
'Cos giving into old temptation,
Is like that common twitch.
Oh the silly stupid realisation,
The more you scratch the more you itch.

So, what are you thinking while singing it?

16 March 2006

Sintren dan Lais

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Cerbonan, pukul 13:01

sintrenSintrén adalah kesenian yang berasal dari daerah sepanjang pesisir pantura, seperti Cirebon, Indramayu dan Pekalongan. Makna Sintrén sendiri tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebut sintren kependekan dari “sinyo” (pemuda) “trennen” (berlatih). Ada juga yang mengatakan Sintrén berasal dari kata Sin (Sindir, artinya pertanyaan melalui syair yang perlu dipikirkan dan dicari jawabannya) dan Tetaren (yang artinya tari-tarian). Selain itu, ada juga yang menuturkan bahwa asal usul Sintrén adalah upacara pemanggilan ruh, karena dilihat dari tembang-tembang yang bernuansa magis (?) ditambah adegan kesurupan yang dialami seorang Sintrén dipimpin oleh seorang dalang (atau pawang) sebagai shaman atau dukun. Sedangkan Lais adalah seni yang serupa dengan Sintrén hanya saja lakonnya adalah seorang laki-laki.

Selebihnya, saya melihat ini hanya sebagai sebuah kesenian dengan trik tertentu. Saya sendiri pernah beberapa kali sewaktu SMA terlibat dalam pementasan Sintrén (baik sebagai dalang ataupun penembang, tapi belum pernah sebagai Sintrén :D ). Gugusdepan Pramuka di SMA 2 Cirebon (Smanda Gragé) memang secara rutin setiap tahun menampilkan kesenian ini di acara pementasan seni dalam rangka ulang tahun Ambalan Candra Dimuka - Candra Buana. Selain itu juga pernah digelar pertunjukkan Sintren (dan Lais) di RW kami dalam acara 17-agustusan. Baca lanjutannya…

12 December 2005

Kreativitas, bebas nilai?

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Indonesiana, pukul 09:18

Membaca detik, yang memberitakan diperiksanya seorang blogger akibat kreativitasnya mengubah foto yang diduga sebagai Mayangsari-Bambang Triatmojo menjadi beberapa foto lain, membuat saya bertanya-tanya: apakah kreativitas bebas nilai?

Saat terjadi Didikgate seperti yang ditulis Priyadi, memang sang pembuat foto saat itu tidak mendapat konsekuensi apa-apa. Tidak ada aduan resmi ke kepolisian dari Didik yang notabene warga kampung gajah. Ia hanya merespon dalam tulisan di blognya dengan nada candaan pula. Di kampung ini, lelucon semacam itu sudah biasa terjadi. Hal seperti ini tidak menjadi masalah serius.

Tetapi apa jadinya jika wajah SBY ditempelkan di atas foto tersebut? Lelucon ini menjadi persoalan serius. Ada pasal dalam KUHP yang bisa (dan biasa) dipakai untuk menjerat pelakunya, seperti juga misalnya beberapa waktu yang lalu ada seseorang membakar foto Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjadi Presiden RI.

Hak berkreasi bagi seseorang memang harus dijamin. Tapi, apakah kreativitas bebas nilai? Bagaimana menurut Anda?

9 November 2005

Nasyid

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Islam kita, pukul 14:04

Kapan Anda mendengar kata “nasyid”?

Pertama kali saya mendengar nasyid dan kata “nasyid” kira-kira dulu sewaktu awal 90-an. Ketika itu, kakak saya yang aktif di Karisma ITB membawakan sebuah kaset nasyid berjudul Panggilan Jihad. Sejak itulah saya mulai akrab dengan nasyid, walaupun tak tahu apakah definisi itu nasyid. Apakah itu aliran atau genre dalam musik, atau apa?

Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang ikut mendengarkan suara Opick menyela: “wah ini sih bukan nasyid!” Ketika saya tanya kenapa, ternyata nasyid yang ia kenal (atau yang ia definisikan?) adalah lagu tanpa (atau lebih tepatnya minim?) alat musik. Sedangkan Ustadz Opick jelas menggunakan alat musik seperti halnya lagu-lagu pop yang ada. Tapi saya yakin, Ustadz Opick adalah seorang munsyid (pelantun nasyid). Baca lanjutannya…

15 September 2005

Lir Ilir

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Islam kita, pukul 12:58

(bahasa jawa)

Am        Am           C       Am  Dm
Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir
      C           Dm
Tak ijo royo - royo
               F       Am
Tak sengguh temanten anyar
	
Am          Am          C          Am   Dm
Cah angon - cah angon penekno blimbing kuwi
         C       Dm            F         Am
Lunyu - lunyu peneen kanggo mbasuh dododiro, dododiro
	
Am          Am               C     Am     Dm
Dododiro - dododiro kumitir bedah ing pinggir
C        Dm               F       Am
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
	
           G           Am
Mumpung pandang rembulane
G           Am
Mumpung jembar kalangane
C       Dm   F   G Am
Sun surako surak hiyo

Sebuah nasyid jawa zaman Walisongo. Tidak bisa dipastikan, siapa yang menggubah tembang penuh makna ini. Ada yang menyebut Sunan Giri, ada yang bilang Sunan Kalijaga, atau Sunan Ampel. Bisa jadi lembaga Walisongo yang menggubahnya, sebagai strategi dakwah ke masyarakat jawa pada saat itu.

Jika ditanyakan, berapa orang yang tahu lagu ini? Mungkin bukan hanya orang jawa yang kenal. Bahkan para harpis menterjemahkan lir ilir ke dalam musik jazz dalam konser harpa “Harp to Heart” yang menampilkan The World Harp Ensemble (WHE), Selasa (28/5), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Mereka adalah Maya Hassan dari Indonesia, Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kelly Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico)

Tak kurang, Carrol McLaughlin, seorang profesor musik harpa Universitas Arizona yang terkagum-kagum pada Lir ilir, sering memainkan tembang ini. Lalu apakah dia mengerti lagu ini? Maya Hassan, harpanis Indonesia seperti dikutip Kompas mengatakan “Dia berusaha ingin mengerti filosofi lagu.”

Sebuah diskusi di milis Forkom Jerman mengingatkanku, bahwa kita banyak tahu lagu-lagu daerah, tapi sudah miskin makna. Bahkan, kata-kata banyak tahu ini pun masih dipertanyakan. Seiring dengan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah, lagu-lagu daerah pun menjadi sulit dikenal. Jangankan untuk memahami, mengerti kata-per-kata saja sulit. Padahal bahasa adalah kekayaan yang tak ternilai. Bahkan, dibandingkan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah semisal Basa Sunda memiliki kosa kata yang lebih kaya dan lebih mendalam.

Dari diskusi Lir ilir, semakin mengkristalkan keyakinanku akan penghargaan terhadap budaya, dalam hal ini bahasa. Apalagi latar belakang keluargaku dan keluarga istriku yang sunda-jawa-cirebon.

ps. terjemahan Lir ilir, bisa dilihat dalam situs nasyid malaysia di sini