blogué :: blog-é wông gragé

16 March 2006

Sintren dan Lais

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Cerbonan, pukul 13:01

sintrenSintrén adalah kesenian yang berasal dari daerah sepanjang pesisir pantura, seperti Cirebon, Indramayu dan Pekalongan. Makna Sintrén sendiri tidak diketahui secara pasti. Ada yang menyebut sintren kependekan dari “sinyo” (pemuda) “trennen” (berlatih). Ada juga yang mengatakan Sintrén berasal dari kata Sin (Sindir, artinya pertanyaan melalui syair yang perlu dipikirkan dan dicari jawabannya) dan Tetaren (yang artinya tari-tarian). Selain itu, ada juga yang menuturkan bahwa asal usul Sintrén adalah upacara pemanggilan ruh, karena dilihat dari tembang-tembang yang bernuansa magis (?) ditambah adegan kesurupan yang dialami seorang Sintrén dipimpin oleh seorang dalang (atau pawang) sebagai shaman atau dukun. Sedangkan Lais adalah seni yang serupa dengan Sintrén hanya saja lakonnya adalah seorang laki-laki.

Selebihnya, saya melihat ini hanya sebagai sebuah kesenian dengan trik tertentu. Saya sendiri pernah beberapa kali sewaktu SMA terlibat dalam pementasan Sintrén (baik sebagai dalang ataupun penembang, tapi belum pernah sebagai Sintrén :D ). Gugusdepan Pramuka di SMA 2 Cirebon (Smanda Gragé) memang secara rutin setiap tahun menampilkan kesenian ini di acara pementasan seni dalam rangka ulang tahun Ambalan Candra Dimuka - Candra Buana. Selain itu juga pernah digelar pertunjukkan Sintren (dan Lais) di RW kami dalam acara 17-agustusan.

Pementasan Sintrén diawali dengan seorang gadis (Sintrén) yang menari dengan pakaian seadanya (biasanya berkaus putih) ditemani dua dayang. Lalu nyanyi-nyanyian pun ditembangkan. Seorang dalang kemudian beraksi mengikat sintren dengan tali di sekujur tubuhnya dari leher hingga kaki dan (berpura-pura?) membaca mantra khusus. Lalu pingsanlah si gadis. Dalam keadaan terikat, ia dimasukkan ke dalam kurungan ayam (yang diselubungi kain diluarnya) diiringi bacaan mantra sang dalang dan tembang-tembang.

Sesaat kemudian dibukalah kurungan dan gadis tersebut sudah memakai pakaian lengkap (plus hiasan) selayaknya seorang putri dan (ini yang menjadi ciri khas) memakai kacamata hitam. Si gadis lalu menari dan menari, hingga pada adegan di mana dalang kembali membuat gadis tersebut tak sadarkan diri, memasukkannya kembali ke dalam kurungan. Saat dibuka, si gadis sudah kembali berpakaian seperti semula dan dalam kondisi terikat di sekujur tubuhnya persis seperti ikatan dalang tadi.

Proses menjadi putri dan kembali menjadi gadis biasa dalam keadaan terikat disekujur tubuhnya dan dalam ruang sesempit kurungan ayam serta dalam waktu singkat inilah yang menarik perhatian penonton. Bagaimana itu bisa? Sayangnya misteri itu tetap menjadi misteri (hehehe… ga ding, ini cuma rahasia perusahaan aja)

Berikut tembang-tembang dalam Basa Cerbon yang masih teringat (sisanya lupa):

Turun sintrén, sintréné widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan
Kang manjing ning awak ira

Turun-turun sintrén
Sintrené widadari
Nemu kembang yun ayunan
Nemu kembang yun ayunan
Kembangé si Jaya Indra
Widadari temurunan

Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Kembang katés gandul
Pinggiré kembang kenanga
Arep ngalor arep ngidul
Wis mana gagéya lunga

Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Kembang kenanga
Pinggiré kembang melati
Wis mana gagéya lunga
Aja gawé lara ati

Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Kembang jaé laos
Lempuyang kembangé kuning
Ari balik gagé elos
Sukiki menéya maning

Kembang kilaras
Ditandur tengaé alas
Paman-bibi aja maras
Dalang sintrén jaluk waras

Kesenian ini memang menarik, cuma aroma mistisnya itu lho, hiiyy… Dalangnya aja bawa-bawa bakaran kemenyan. (Gambar diambil dari: http://www.pemalang.go.id/budaya.php).

5 Komentar »

URI untuk lacak-balik entri ini:
http://tsonjaya.blogsome.com/2006/03/16/sintren-dan-lais/trackback/

  1. Comment oleh shofyan khasani — 16 November 2006 @ 21:41

    terimakasih , artikel ini sangat membantu saya dalam penyusunan novel perdana saya. Mohon do’a restu kiranya saya bisa menyelesaikan novel nanti dengan hasil yang maksimal . sekali lagi terimakasih untuk artikelnya .

  2. Comment oleh wông gragé — 17 November 2006 @ 12:16

    Salam kenal. Senang sekali bisa membantu. Kalau novelnya sudah keluar, tolong diberi kabar ya. :)

  3. Comment oleh duniaputri — 17 June 2007 @ 06:15

    whoa, kula dadi wong cerbon isin dhewek. bli ana sumbangsih ke kota tercinta (lh ini ngomong cerbonan aja udah belepotan…) ntar kabar2i jg yaa novelnyah. sy sih sudah ngirim naskah ke penerbit, berdoa dan sangat ngarep biar layak terbit, amin… wat yg punya blog ini, salam kenal yaa. kula saking SMUNSA. parek, jeh. iku ngliwat prapatan bae yaa… (hahaha, gw gak ngerasa norak bisa basa cerbon, gw bangga sama cerbon. hidup CIREBON BERINTAN… bener…)

  4. Comment oleh Jalu Handoko — 23 November 2007 @ 06:55

    Salam dari Ambalan Moch Ramdhan dan Pringgading SMA Negeri 1 Cimahi Buat Ambalan Chandra Dimuka dan Chandra Buana, Cirebon. Hebat euy !

  5. Comment oleh aldody — 4 September 2008 @ 08:36

    isun ge sing cirebon tapi isun wis suwe ngerantau ning Batam, milu gabung olih ora

RSS feed untuk komentar yang ada disini.

Tulis komentar

Alamat e-mail tidak akan ditampilkan. Skrip HTML yang dibolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>