blogué :: blog-é wông gragé

31 December 2005

Selamat Tinggal Ruppertsecken!

Oleh wông gragé, terarsip di Pribadi, pukul 10:17

Kemarin sore, saya kembali pulang ke Karlsruhe. Setelah lebih dari 8 bulan menyepi di Karesidenan Donnersberg (Donnersbergkreis), akhirnya Jumat kemarin adalah hari terakhir saya secara resmi di BorgWarner. Dan perjalanan bis Kirchheimbolanden-Rockenhausen seperti sebuah kepulangan dari medan perang. Era baru segera dimulai. Tapi di lubuk, ada sebersit kerinduan. Rutinitas yang ternyata memberikan warna. Saat ia ditinggalkan, warnanya pun merekah.

Setiap pagi, kereta menuju Bingen pukul 06.06, 40 menit turun di Rockenhausen, dijemput supir bus 901 yang keturunan Rusia. Ke arah Weierhof, lewat Ruppertsecken (kesukaanku!), 55 menit turun di Marnheimerstrasse. Lalu ngantor. 12.30 pause ke Masjid Turki, ishoma. Lalu ngantor lagi. 17.16 bus pulang sudah menunggu. Di Rockenhausen ambil kereta 17.55. Sampai di KL 18.34, teng! setiap hari. Hari yang disuka: Senin dan Rabu.

Ke Karlsruhe disambut salju deras sepanjang perjalanan kereta. Hauptbahnhof Karlsruhe; tak ada yang berubah selain putih dan curahan salju. Koperku lumayan berat ditambah beban tas besar di punggung. Kuambil S-Bahn ke arah Marktplatz, lalu pindah ke S-Bahn arah Durlacher Tor.

Disambut Hafid, Ustman, Ardhi, Dio, segelas teh hangat, dan indomie+sosis di kost-kostan Ludwig-Wilhelm-Strasse. Serasa kongkow-kongkow di Bandung. Masa yang sudah lewat sekitar lima tahun yang lalu. Lalu obrolan tentang umur: ternyata saya sudah tua! Lalu apa yang kudapat selama hampir 28 tahun malang melintang di dunia Kang Ow? Beberapa jam lagi tahun berganti, lalu apa yang sudah aku lakukan di 2005? Terjebak pada kekinian membuat waktu terasa melambat. Tapi kalau menengok ke belakang, ia terlihat melesat cepat. Ternyata yang terlihat kesia-siaan di sana-sini.

23:35. Bus dari Durlacher-Tor ke Waldstadt. Seorang backpacker melempar senyum, mungkin karena aku juga terlihat seperti backpacker. Tapi tak ada obrolan. Turun dari bus dan bergegas ke Insterburger melawan deras salju. Menuju tumpangan berikutnya: Kamar Ario.

Terima kasih khusus untuk Apri (dan Ika), yang kamarnya jadi tumpangan juga dan segenap anak-anak KL.

Catatan: ini tulisan katarsis!

17 December 2005

Saya Belum Membaca

Oleh wông gragé, terarsip di Indonesiana, pukul 09:47

Kalimat di atas, atau model lain yang sejenis lainnya sering sekali kita lihat di media. Persoalannya adalah, ketika hal ini menyangkut hal-hal yang penting, maka proses pengambilan keputusan menjadi terhambat. Dalam kasus putusan MA tadi, seharusnya pihak-pihak yang sangat erat kaitannya dengan persoalan tersebut harus mendapat informasi resmi secepat mungkin.

13 December 2005

Dipaksa libur

Oleh wông gragé, terarsip di Pribadi, Jermania, pukul 13:09

Saya dipaksa libur. Harus cuti. Katanya, cuti saya tahun ini belum diambil, makanya bagian personalia mencak-mencak: Pokoknya sampai akhir tahun, semua cuti pekerja harus sudah diambil!

Peraturan disini mengharuskan pekerja wajib mengambil cutinya. Kalau tidak, maka yang bersangkutan tidak mendapat uang cuti (Urlaubsgeld). Tapi saya kan cuma magang saja. Apa saya benar-benar dapat cuti?

Yup, ternyata benar. Selama 7 bulan lebih magang, saya berhak cuti selama 15 hari. Wow, lumayan. Tapi sambil tersenyum saya bilang: Ich brauch’ keinen Urlaub (saya tidak butuh cuti). Ich werde Ihnen meine Urlaubszeit verschenken (saya hadiahkan waktu cuti saya untuk Anda). Sekretaris itu pun tertawa. Wah, baru kali ini, katanya, ada yang menghadiahkan waktu cuti.

Terang saja. Saya harus menyelesaikan laporan thesis hingga akhir bulan ini. Mana sempat memikirkan Urlaub. Dan ternyata, selidik punya selidik, saya tidak akan mendapat Urlaubsgeld karena status Diplomand saya. Wah, nasib… sudahlah gaji tiap bulan dipotong pajak hingga 100 €, ternyata Urlaubsgeld buat Diplomand hanya kabar bohong.

12 December 2005

Kreativitas, bebas nilai?

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Indonesiana, pukul 09:18

Membaca detik, yang memberitakan diperiksanya seorang blogger akibat kreativitasnya mengubah foto yang diduga sebagai Mayangsari-Bambang Triatmojo menjadi beberapa foto lain, membuat saya bertanya-tanya: apakah kreativitas bebas nilai?

Saat terjadi Didikgate seperti yang ditulis Priyadi, memang sang pembuat foto saat itu tidak mendapat konsekuensi apa-apa. Tidak ada aduan resmi ke kepolisian dari Didik yang notabene warga kampung gajah. Ia hanya merespon dalam tulisan di blognya dengan nada candaan pula. Di kampung ini, lelucon semacam itu sudah biasa terjadi. Hal seperti ini tidak menjadi masalah serius.

Tetapi apa jadinya jika wajah SBY ditempelkan di atas foto tersebut? Lelucon ini menjadi persoalan serius. Ada pasal dalam KUHP yang bisa (dan biasa) dipakai untuk menjerat pelakunya, seperti juga misalnya beberapa waktu yang lalu ada seseorang membakar foto Megawati Soekarnoputri yang saat itu menjadi Presiden RI.

Hak berkreasi bagi seseorang memang harus dijamin. Tapi, apakah kreativitas bebas nilai? Bagaimana menurut Anda?

8 December 2005

Sate Pentul

Oleh wông gragé, terarsip di Cerbonan, pukul 11:06

Pernah makan sate pentul? Ini sate khas Cirebon.

Ngomong-ngomong tentang makanan khas Cirebon, jenis makanan apa pun, salah satu bumbu utamanya adalah kunyit, baik daun maupun akarnya. Nah, tidak terkecuali sate pentul ini. Kunyit ini juga merupakan bahan penghasil warna pada batik. Mungkin lain kali akan dibahas soal motif batik khas dari Cirebon.

Sate Pentul

Bahan-bahan yang dibutuhkan:
0,5 kg daging kambing yang dicincang
1,5 butir kelapa
ketumbar
bawang merah
kawang putih
kunyit
daun jeruk nipis
garam
sagu/kanji

sujen (tusuk sate)

Cara membuatnya:
Bumbu-bumbu dihaluskan sampai lembut, campurkan daun jeruk nipis yang sudah diremas-remas ke dalamnya. Kelapa diparut. Bumbu yang sudah dihaluskan kemudian dicampur dengan daging cincang, lalu aduk dengan kelapa parut tadi. Pulunglah (eh, pulung bahasa Indonesia bukan?) bulat-bulat sebesar ibu jari. Supaya tidak hancur ketika digoreng, luluri bulatan tadi dengan air sagu. Lalu tusukkan ke dalam sujen dan goreng dalam minyak yang panas.

Silahkan mencoba. Resep ini didapat dari situs resmi Kotamadya Cirebon dengan sedikit mofifikasi.