blogué :: blog-é wông gragé

17 September 2005

My Indonesia

Oleh wông gragé, terarsip di Indonesiana, pukul 11:01

Geography

Geography Location:

Southeast Asia, archipelago between the Indian Ocean and the Pacific Ocean.
Geographic coordinates:
5 00 S, 120 00 E
Area: total: 1,919,440 sq km land: 1,826,440 sq km water: 93,000 sq km
Land boundaries: total: 2,602 km
border countries: Malaysia 1,782 km, Papua New Guinea 820 km
Coastline: 54,716 km
Maritime claims: measured from claimed archipelagic baselines
exclusive economic zone: 200 nm
territorial sea: 12 nm
Climate: tropical; hot, humid; more moderate in highlands. Temperature generally ranges from 20-32 degrees Celsius (68-89 Fahrenheit). Humidity ranges from 60 percent to 90 percent. Indonesia’s “wet season” lasts from November through April and its “dry season” from May through October, with slight variations in its regional sub-climate zones. Baca lanjutannya…

15 September 2005

Lir Ilir

Oleh wông gragé, terarsip di Budaya, Islam kita, pukul 12:58

(bahasa jawa)

Am        Am           C       Am  Dm
Lir ilir, lir ilir tandure wis sumilir
      C           Dm
Tak ijo royo - royo
               F       Am
Tak sengguh temanten anyar
	
Am          Am          C          Am   Dm
Cah angon - cah angon penekno blimbing kuwi
         C       Dm            F         Am
Lunyu - lunyu peneen kanggo mbasuh dododiro, dododiro
	
Am          Am               C     Am     Dm
Dododiro - dododiro kumitir bedah ing pinggir
C        Dm               F       Am
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
	
           G           Am
Mumpung pandang rembulane
G           Am
Mumpung jembar kalangane
C       Dm   F   G Am
Sun surako surak hiyo

Sebuah nasyid jawa zaman Walisongo. Tidak bisa dipastikan, siapa yang menggubah tembang penuh makna ini. Ada yang menyebut Sunan Giri, ada yang bilang Sunan Kalijaga, atau Sunan Ampel. Bisa jadi lembaga Walisongo yang menggubahnya, sebagai strategi dakwah ke masyarakat jawa pada saat itu.

Jika ditanyakan, berapa orang yang tahu lagu ini? Mungkin bukan hanya orang jawa yang kenal. Bahkan para harpis menterjemahkan lir ilir ke dalam musik jazz dalam konser harpa “Harp to Heart” yang menampilkan The World Harp Ensemble (WHE), Selasa (28/5), di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta. Mereka adalah Maya Hassan dari Indonesia, Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kelly Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico)

Tak kurang, Carrol McLaughlin, seorang profesor musik harpa Universitas Arizona yang terkagum-kagum pada Lir ilir, sering memainkan tembang ini. Lalu apakah dia mengerti lagu ini? Maya Hassan, harpanis Indonesia seperti dikutip Kompas mengatakan “Dia berusaha ingin mengerti filosofi lagu.”

Sebuah diskusi di milis Forkom Jerman mengingatkanku, bahwa kita banyak tahu lagu-lagu daerah, tapi sudah miskin makna. Bahkan, kata-kata banyak tahu ini pun masih dipertanyakan. Seiring dengan semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah, lagu-lagu daerah pun menjadi sulit dikenal. Jangankan untuk memahami, mengerti kata-per-kata saja sulit. Padahal bahasa adalah kekayaan yang tak ternilai. Bahkan, dibandingkan dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah semisal Basa Sunda memiliki kosa kata yang lebih kaya dan lebih mendalam.

Dari diskusi Lir ilir, semakin mengkristalkan keyakinanku akan penghargaan terhadap budaya, dalam hal ini bahasa. Apalagi latar belakang keluargaku dan keluarga istriku yang sunda-jawa-cirebon.

ps. terjemahan Lir ilir, bisa dilihat dalam situs nasyid malaysia di sini