31 August 2005
Tuya Sophia
(Usum nandur kacang 1921 - 31 Agustus 2005)
Dari semua cucu, rasanya kedekatanku dengan beliau melebihi semuanya. Bagai potongan-potongan film, terbayang olehku bagaimana manisnya semua kenangan itu.
Saat aku SD, di kampungku lagi musim-musimnya memelihara ikan hias. Black molly, perak-perak, sapu-sapu, koki,… Ikan-ikan jenis lain, aku sudah lupa. Tapi aku ga lupa, saat itu kita bikin kolam kecil dibelakang rumah. Beliau dan aku. Kami bahkan sempat punya beberapa aquarium, ukuran besar dan kecil.
Ema punya banyak hobi. Setelah beliau “pensiun” dari berwiraswasta, setiap hari banyak kegiatan dilakukannya. Beliau memang tidak biasa diam. Dari mulai berkebun, mengaji dengan ibu-ibu di kampung, atau sekedar bersih-bersih rumah dan tentu saja memelihara ikan hias. Mungkin kedekatanku dengan beliau lebih disebabkan aku satu-satunya cucu yang sering di rumah saat Ema sudah pensiun. Entahlah, yang jelas aku merasa dekat dengan Ema.
Saat aku kuliah di Bandung dulu, setiap pulang selalu kusempatkan bercengkrama dengannya. Kami berbicara bahasa Cherbon. Dan tentu saja, aku kesulitan untuk bisa bertutur dengan bahasa kromo. Ema sering tertawa melihat aku kesulitan mencari kata-kata. Setiap kesalahan, dikoreksinya. Setiap kami nonton tivi dan melihat sesuatu yang aneh, canggih atau apapun yang diluar logika Ema, beliau selalu bilang: Guno!. Kata yang sampai saat ini, aku belum bisa menterjemahkannya kedalam bahasa Indonesia.
Beliau sosok yang begitu ndeso. Dulu, aku sempat berusaha untuk mencatat silsilah keluarga dari Mamah. Lewat Ema aku mencatat nama-nama family tree. Saat itu pula, beliau menceritakan kondisi dulu saat beliau dilahirkan. Tanggalnya tak bisa diingat. Mungkin juga memang tidak pernah tercatat. Bagaimana mungkin perempuan desa biasa tahun 1920-an kelahirannya dicatat? Apalagi berasal dari keluarga yang tidak mengenal pendidikan, buta huruf dan dari kalangan rakyat jelata. Tentang saat kelahiranya, beliau hanya bilang “lagi usum nandur kacang” (sedang musim tanam kacang).
Ya, musim tanam kacang. Menjadi tanda kelahiran Ema. Menandakan potret kehidupan desa, di mana musim panen dan musim tanam menjadi momen penting. Samar-samar, ingatanku melayang pada kisah-kisah perjuangan Ema bersama Mamah kecil. Lalu penggalan-penggalan masa kecilku, kedekatanku dengan beliau. Ada rasa hangat menjalar. Sabtu lalu saat aku telpon Mamah dan kudengar Ema sudah susah makan. Bahkan diinfuspun sulit. Sehabis operasi hernia, kesehatannya memang menurun. Beliau bilang “Ema wis pegel. Pengen balik bae.” (Ema sudah capek. Pengen pulang aja). Sebuah isyarat.
Dan hari ini, kudapat kabar dari istriku tentang kepergiannya pukul jam 18.30 WIB yang lalu. Aku menangis. Bukan karena kepergiannya, sebab kematian adalah hal yang tak bisa dihindari. Sedih, karena aku merasa belum berbuat apa-apa untuknya. Ya Allah, beri tempat yang layak buat Ema disisiMu. Allahumagh firlaha, war hamha, wa ‘afihi wa’ fu ‘anha. Amiin. Selamat jalan Ma!.

